Berita Ling Media

Minggu, 15 April 2018

"utang Indonesia Terus Membengkak Rakyat Miskin Terus Menderita?"

Jakarta Indonesia-Rasio utang Indonesia terhadap Gross Domestic Product (GDP) saat ini mencapai 27 persen (GDP sekitar Rp 13.000 triliun). Dengan rasio tersebut, setiap penduduk Indonesia memiliki tanggungan utang negara sebesar US$ 997 atau setara Rp 13 juta perkepala. Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati jika dihitung dari hampir 260 juta penduduk, diperkirakan perkepala dari kita semua memiliki utang masing-masing US$ 997. Diakuinya angka tersebut masih cuku tinggi, tapi tidak terlalu tinggi jika dibandingkan dengan negara lain. Mantan Direktur pelaksana World Bank ini membandingkan rasio utang negara lain yang masih jauh lebih besar dibandingan Indonesia. Dikatakannya, Di Amerika Serikat, setiap kepala menanggung utang US$ 62.000. Sedangkan di Jepang bahkan mencapai sebesar US$ 85.000. "Saat ini rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih berada di bawah 30% dan defisit APBN pada kisaran 2,5%. Angka ini jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan negara G-20 lainnya," jelas Sri Mulyani seperti dikutip dari akun Facebook-nya, Jumat (7/7). Ia memastikan, Indonesia tetap mengelola utang secara prudent (hati-hati). Presiden Joko Widodo tengah menggelontorkan anggaran besar untuk membangun infrastruktur di Indonesia. “Ini merupakan upaya pemerintah mengejar ketinggalan pembangunan," lanjutnya. Pemerintah sejauh ini memang menilai utang menjadi sesuatu yang tak bisa terelakan mengingat Indonesia masih mengalami defisit anggaran beberapa tahun terakhir. Misalnya saja, penerimaan dalam APBN P 2016 diproyeksikan sebesar Rp 1.786,2 triliun dengan belanja negara Rp 2.082,9 triliun. Namun, penerimaan hanya terealisasi Rp 1.551,8 triliun (86,9 persen dari target) dengan realisasi belanja negara Rp 1.859,5 triliun (89,3 persen dari target). Defisit anggaran pun tercatat Rp 307,7 triliun atau 2,46 persen terhadap PDB. Di dalam APBN 2017 penerimaan negara di proyeksikan sebesar Rp 1.750,3 triliun, dengan rencana belanja sebesar Rp 2.080,5 triliun. Defisit anggaran pun dipasang di angka 2,41 persen terhadap PDB atau Rp 330,2 triliun. Angka-angka ini kembali diubah lewat APBN Perubahan 2017 mengingat ada asumsi target penerimaan pajak masih akan mengalami shortfall tahun ini. Artinya, utang bakal menjadi jalan cepat buat pemerintah untuk menambal kurangnya penerimaan negara. Dalam rancangan APBN-P 2017, shorfall penerimaan perpajakan ditaksir mencapai sekitar Rp 48 triliun. Konsekuensinya, target perpajakan pun direvisi turun dari Rp 1.499 triliun menjadi Rp 1.451 triliun. Sayangnya, shortfall pajak justru tidak diikuti oleh pemangkasan belanja, seperti yang dilakukan pada tahun 2016 lalu. Alasan pemerintah, saat ini tengah butuh biaya besar untuk mengenjot infrastruktur. Pada APBN-P 2017, pagu belanja negara justru dinaikkan dari Rp 2.080,5 triliun menjadi Rp 2.111,4 triliun. Alhasil, defisit anggaran akan naik dari Rp 330,2 triliun menjadi Rp 397 triliun. Ujungnya defisit membengkak dari 2,41% menjadi 2,92 terhadap PDB, hampir menyentuh batas atas defisit anggaran 3 persen dari PDB sesuai UU Keuangan Negara. Dengan kenaikan defisit tersebut, total utang pemerintah yang akan ditarik meningkat dari Rp 384,69 triliun menjadi Rp 426,99 triliun. Jika anggaran utang tersebut terealisasi, maka pada akhir 2017, outstanding utang pemerintah akan mencapai Rp 3.962,86 triliun. Sebuah ‘percepatan’ pertumbuhan utang yang signifikan. Bisa dilihat total utang baru selama 2,5 tahun terakhir sudah mencapai Rp 1.210,92 triliun. Sebagai perbandingan, dalam tiga tahun terakhir pemerintahan sebelumnya (SBY), tambahan utang baru ‘hanya’ mencapai Rp 619,74 triliun. Bahkan, pertumbuhan utang dalam 2,5 tahun pemerintahan Joko Widodo saat ini, masih lebih besar dibandingkan penambahan utang pada periode kedua pemerintahan Presiden SBY secara keseluruhan lima tahun (2009-2014) yang sebesar Rp1.019 triliun. Sampai akhir tahun ini, hampir dipastikan utang pemerintahan Joko Widodo pun akan bertambah dan melampaui level Rp 1.500-an triliun dalam tiga tahun pertamanya. . Defisit Keseimbangan Primer Pertanyaannya, apa yang menjadi parameter negara harus belanja lebih besar di banding pendapatannya yang diproyeksikan selama setahun ke depan? Mengapa setiap tahun belanja negara harus meningkat, sementara pertumbuhan pendapatan terus tak bisa mengejar pertumbuhan kebutuhan belanja? Jika besaran belanja negara ini tahun depan sama seperti tahun ini, apakah harus dianggap negara tak berkembang? Faktanya, untuk memenuhi hasrat belanja negara, utang yang ditarik pemerintah lewat sejumlah instrumen dan kreditur jumlahnya sudah sangat besar dan makin sulit dikurangi. Data Direktorat Jenderal (Ditjen) Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Kementerian Keuangan menyebutkan, dalam lima tahun terakhir, saldo utang pemerintah selalu meningkat. Jika di tahun 2012, posisi utang pemerintah sebesar Rp 1.977,77 triliun, di tahun 2016 menjadi sebesar Rp 3.511,16 triliun. Hingga Mei 2017 posisi utang pemerintah pusat mencapai Rp 3,672,43 triliun. Jumlah tersebut terdiri dari surat berharga negara (SBN) sebesar Rp2,943,72 triliun atau 80,16 persen dari total utang. Sementara sisanya, Rp 728,7 triliun merupakan pinjaman. Sejak awal penyusunan anggaran di tahun sebelumnya, pemerintah memang sudah menetapkan kekurangan (defisit) bakal ditutup oleh utang. Rencana penarikan utang pun sudah disusun sesitematis mungkin dengan jadwal yang terencana. Bahkan strategi berutang pun disusun hingga ada istilah Front Loading Strategy atau menarik utang di awal periode tahun berjalan. “Selama anggaran direncanakan selalu defisit, maka pasti ada penambahan utang,” kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro. Menurut mantan Menteri Keuangan ini, utang menjadi kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang masih melambat. Dijelaskannya, dari sisi konsumsi rumah tangga dan investasi swasta cenderung melambat, sehingga diperlukan dorongan belanja pemerintah yang lebih ekspansif. Defisit budget sejatinya diterapkan untuk mengganti skema budget berimbang (pengeluaran tak boleh lebih dari pendapatan) yang sebelumnya digunakan dalam APBN pemerintahan Orde Baru. Namun, kini skema ini diubah, APBN boleh defisit asalkan dalam batas yang wajar. Sehingga ditetapkan batas maksimal defisitnya sebesar 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Menurut Mantan Wakil Presiden Boediono, sebetulnya memang tidak ada penjelasan ilmiah mengenai batasan tersebut hal itu. "Saya membuat kebijakan itu hanya menyontek dari Eropa," ujar Menteri Keuangan periode 2001-2004 tersebut dalam sebuah diskusi di Kementerian Keuangan beberapa tahun lalu. Kala itu, cara tersebut dinilai jitu untuk menjawab masalah saat itu; utang membengkak, penerimaan minim, sementara itu Indonesia butuh tenaga untuk menggenjot perekonomian yang saat itu masih minus 13 persen. Hanya saja, ternyata skema defisit budget tersebut masih terus dilakukan sampai saat ini. Ekonom INDEF Enny Sri Hartati kepada Validnews mengatakan, ketika defisit APBN melebar itu artinya pemerintah butuh uang yang biasanya diambil lewat jalan utang. Menurutnya, utang memang bukanlah barang haram, hanya saja harus dilihat lagi seberapa efektif utang tersebut digunakan untuk memacu penerimaan pemerintah dan pertumbuhan ekonomi. “Masalahnya, utang ini punya garansi nggak untuk meningkatkan penerimaan pemerintah ke depan? Ini ditunjukkan dari neraca keseimbangan primer,” kata Enny. Sayangnya, sejak 2012 terjadi defisit keseimbangan primer hingga tahun depan terus bertambah. Ini menunjukkan belanja APBN tidak efektif. “Jadi kita ambil utang, tapi beban kita bertambah, malah menambah defisit. Buat apa kita ambil utang kalau akhirnya hanya untuk menutup utang lama, bukan untuk kegiatan produktif,” lanjutnya. Sekadar mengingatkan, Neraca Keseimbangan Primer adalah realisasi pendapatan negara dikurangi dengan realisasi belanja negara, di luar pembayaran utang. Defisit keseimbangan primer menunjukkan adanya utang yang digunakan untuk membayar utang yang jatuh tempo pada tahun tersebut, ibaratnya gali lubang tutup lubang. Berdasarkan data yang dihimpun dari Kementerian Keuangan terlihat pada 2011, nilai keseimbangan primer pada APBN masih positif sebesar Rp 8,9 triliun (realisasi). Kemudian berubah negatif menjadi Rp -52,8 triliun (2012), Rp -98,6 triliun (2013), Rp -93,3 triliun (2014), Rp -142,5 triliun (2015), Rp-125,6 (2016), Rp -109 Triliun (APBN 2017) dan Rp 178 triliun (APBN Perubahan 2017). Dengan keseimbangan primer yang terus negatif tersebut, dapat dikatakan kemampuan APBN kita untuk mengurangi beban utangnya masih lemah. Kondisi ini perlu segera diperbaiki agar tidak membahayakan kesehatan fiskal, Menteri Keuangan Sri Mulyani sendiri sempat mengakui, postur APBN belakangan ini memang tidak sehat. Karenanya, pengelolaan APBN harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak menjadi momok bagi APBN itu sendiri. "Kalau ingin belanja lebih banyak, harus mendapatkan pajak yang lebih banyak. Dengan demikian seluruh kebutuhan bisa didapat dan tidak membahayakan ekonomi," kata Sri Mulyani dikutip dari Antara (12/7). Mengenai penetapan target APBN, khususnya anggaran belanja, Sri bahkan menilainya sebagai sesuatu yang cukup lucu. Jika pada satu sisi, pemerintah harus menetapkan anggaran belanja yang pasti akan digunakan, di sisi lain pemerintah harus menetapkan penerimaan yang tak pasti akan diperoleh. Ironisnya, utang yang sudah disiplin ditarik sesuai jadwalnya, selalu tersisa atau tak seluruhnya terpakai pada satu tahun anggaran. Istilahnya, utang mubazir yang saldonya tiap tahun justru bertambah. Utang yang tak terpakai itu pun ditambah lagi dengan anggaran lainnya yang tak terserap optimal setiap tahunnya dan bertumpuk menjadi Saldo Anggaran Lebih (SAL). Menurut PP No. 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, SAL sendiri adalah saldo yang berasal dari akumulasi Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran (SiLPA/SiKPA) tahun-tahun anggaran sebelumnya dan tahun berjalan serta penyesuaian lain yang diperkenankan. Pendeknya, SAL adalah sisa uang dikantong kita di akhir tahun yang berasal dari penerimaan dan pengeluaran selama bertahun-tahun, di dalamnya termasuk perolehan pendapatan dan utang. Dari Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) Tahun 2016 yang terbit Mei 2017 kemarin, SAL awal 1 Januari 2016 sebesar Rp 107,91 triliun dengan penyesuaian SAL Awal Rp 0,35 triliun. Kemudian penggunaan SAL pada tahun 2016 tercatat sebesar Rp 19,01 triliun, Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) sampai 31 Desember 2016 sebesar Rp 26,16 triliun dan Penyesuaian SAL sebesar minus Rp 2,22 triliun. Dengan begitu, Saldo Anggaran Lebih (SAL) Tahun 2016 adalah sebesar Rp 113,19 triliun Jumlah SAL pemerintah pusat sendiri belakangan terus naik. Jika pada 2015 lalu sebesar Rp 86 triliun kemudian menjadi hampir Rp 108 triliun atau naik sebesar Rp 22 triliun di 2016. Sayangnya, besaran SAL yang bertambah juga selalu dikontribusi dari adanya SiLPA. SiLPA sendiri sejatinya menggambarkan pembiayaan atau utang yang tidak digunakan dalam APBN tahun sebelumnya. Padahal, beban bunga dari utang tersebut tetap berjalan. Pada APBN 2017 bunga utang yang ditanggung pemerintah saja mencapai Rp 221 triliun, angka ini meningkat 21 persen dari pembayaran bunga utang pada APBN-P 2016 sebesar Rp 182 triliun. Selama lima tahun terakhir rata-rata peningkatan pembayaran bunga utang mencapai 17persen. Analis Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia Dani Setiawan kepada Validnews, menuturkan posisi Rupiah yang rendah belakangan bahkan makin mendongkrak pembayaran bunga utang dan pokok utang pemerintah. Ironisnya, sejak tiga tahun terakhir untuk membayar cicilan dan bunga utang yang telah jatuh tempo, "Pemerintah harus menarik utang baru. Gali lubang tutup lubang,” serunya. Sebenarnya, dengan masih adanya uang di kantong, pemerintah bisa mengunakan SAL untuk memenuhi kebutuhan arus kas (cashflow) di awal tahun seperti untuk membayar gaji pegawai, sementara penerimaan pajak belum terkumpul. SAL juga tentu bisa menjadi mengurangi rencana penarikan utang baru, apalagi untuk menutup utang lama. Namun, mulai awal Desember tahun lalu saja sudah dinerbitkan surat utang berdenominasi dollar Amerika Serikat atau global bond sebesar US$ 3,5 miliar. Alasan penerbitan tersebut untuk menutupi kebutuhan belanja pada awal tahun 2017 (prefunding) yang masuk dalam realisasi pembiayaan semester pertama 2017. Akhir Maret 2017, pemerintah pun kembali menerbitkan sukuk global di pasar internasional sebesar US$ 3 miliar atau setara Rp 40 triliun, yang terdiri dari US$ 1 miliar untuk tenor 5 tahun dan US$ 2 miliar untuk tenor 10 tahun. Padahal, Kementerian Keuangan sendiri pernah mengungkapkan, kebutuhan anggaran pada awal 2017 guna membayar gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan pencairan Dana Alokasi Umum (DAU) ke daerah hanya mencapai sekitar Rp 50 triliun. Artinya bisa diambil sepenuhnya dari SAL. Tampaknya pemerintah harus mengingat lagi, utang memang bisa membantu, tapi bisa juga menjadi hantu di masa depan. Terlebih lagi, utang yang terus membesar tak banyak dirasakan rakyat bawah. United Nations Development Programme/UNDP) dalam laporan Human Development Report 2016 misalnya mencatat, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada 2015 berada di peringkat 113, turun dari posisi 110 di 2014. Kualitas manusia Indonesia kalah dari Malaysia, bahkan juga lebih rendah dari Turki. IPM Indonesia pada 2015 berada di peringkat 113, dengan skor 0,689. Sedangkan Malaysia ada di peringkat 59 dengan skor 0,789, dan Turki di peringkat 71 dengan skor 0,767. UNDP pun melansir, ada sekitar 140 juta orang Indonesia yang hidup dengan biaya kurang dari Rp 20 ribu per hari dan sekitar 19,4 juta orang menderita gizi buruk. Untuk tingkat kesehatan dan kematian, sekitar dua juta anak di bawah usia satu tahun belum menerima imunisasi lengkap. Kemudian, angka kematian ibu masih sebanyak 305 kematian per 100 ribu kelahiran hidup. Sementara untuk akses ke layanan dasar, UNDP mencatat hampir lima juta anak tidak bersekolah dan anak-anak di Papua memiliki tingkat putus sekolah yang tinggi. Data terakhir BPS pun menyebutkan, sampai Maret 2017, jumlah penduduk miskin di Indonesia bertambah sebanyak 6,90 ribu orang menjadi 27,77 juta orang atau 10,64%. Pada September 2016 penduduk miskin tercatat sebesar 27,76 juta orang atau 10,70%. Utang memang tak haram, tapi harus bermanfaat. Apakah utang memang jalan satu-satunya untuk berkembang dan membawa masa depan lebih cepat? Jangan sampai tagline “Bring Tomorrrow Today” yang diusung suatu lembaga pembiayaan nasional, justru merampas masa depan anak cucu kita, hanya karena kita sudah menggunakannya dengan serakah saat ini. Atau, mungkin pemerintah sangat yakin, anak cucu kita nanti pasti bisa melunasi dosa leluhurnya saat ini? (Uji Coba saja)

"Orang Miskin Amerika Perlu Diperhatikan.?"

Amerika -Menurut seorang ekonom peraih Nobel, orang Amerika makmur harus menyumbang kepada orang-orang miskin Amerika katimbang menyumbang orang-orang miskin di negara-negara berkembang. Dalam sebuah editorial untuk New York Times, peraih Nobel ekonomi Angus Deaton menulis bahwa orang Amerika yang menyumbangkan untuk amal orang luar Amerika, harus disadarkan bahwa ada orang-orang Amerika yang sama miskinnya dengan orang-orang di negara-negara berkembang. “Ada jutaan orang Amerika yang menderita"Orang Miskin Amerika Perlu Diperhatikan.?", karena kemiskinan dan masalah kesehatan, sama buruknya atau buruknya dibandingkan orang miskin di Afrika atau Asia.” Bank Dunia mendefinisikan kemiskinan ekstrim sebagai hidup dengan 1,90 dollar per hari ada 3,2 juta orang di Amerika Serikat. Tapi karena kriteria ini tidak memperhitungkan biaya hidup di negara tertentu, Deaton menjelaskan bahwa perbatasan untuk kemiskinan ekstrim di negara-negara kaya harus kurang dari $ 4 per hari. “Ketika kita membandingkan kemiskinan absolut di Amerika Serikat dengan kemiskinan absolut di India dan negara-negara miskin lainnya, kita harus menggunakan $ 4 untuk Amerika Serikat dan $ 1,90 untuk India.” Dengan ukuran ini, kita mencapai angka 5,3 juta orang Amerika yang hidup dalam kemiskinan ekstrim. Ini lebih banyak dari Sierra Leone (3,2 juta) dan sama jumlahnya dengan orang miskin di Senegal. Dengan kata lain 1,7% penduduk Amerika adalah orang miskin. Di Eropa, Italia, Spanyol, Portugal dan Yunani memiliki lebih dari 2% penduduk yang hidup dalam kemiskinan ekstrem. Sedangkan di Prancis 0,3% di Perancis dan 0% di Jerman. Jika kondisi kesehatan umumnya lebih baik di Amerika Serikat daripada di negara-negara miskin, Deaton mengingatkan bahwa ini tidak selalu terjadi. Di beberapa daerah, seperti Delta Mississippi danAppalachian, harapan hidup lebih rendah daripada di Bangladesh dan Vietnam. “Ini saatnya berhenti berpikir bahwa hanya orang-orang non-Amerika yang miskin,” ekonom itu menyimpulkan. Dia menyarankan mereka yang berkonsentrasi membantu orang miskin di Afrika atau Asia harus beralih ke Amerika Serikat, di mana beberapa orang “sama miskinnya dengan yang paling miskin di dunia,” tandasnya bahwa lebih mudah untuk melihat ‘semuk di seberang sungai katimbang gajah di pelupuk mata.’

Andriluntungan Pengamat International Pesimis" Menghadapi Ekonomi Indonesia Di tahun 2019.?".

Mantan Ketua Pengadilan Tinggi Jakarta, Ansyahrul meramalkan Indonesia akan memasuki siklus kenegaraan per 74 tahun. Menurutnya Indonesia bisa hancur di 2019 seperti Uni Soviet atau sebaliknya. Lalu bagaimana agar Indonesia tidak hancur? "Siklus 74 tahun, kita bicara data, bukan bicara teori," kata Ansyahrul. Hal itu disampaikan dalam Seminar 'Desain Status Hakim' di Hotel Atlet Century, Senayan akhir pekan ini. Dalam analisanya, Uni Soviet didirikan pada 1917 dan hancur tepat pada 31 Desember 1991 memasuki usia ke-74. Bagiamana dengan Amerika Serikat? Negara adidaya itu nyaris hancur memasuki usia ke-74 dengan ditandai Perang Saudara yang dikenal dengan Perang Utara-Selatan yang menghasilkan Amandemen ke-13 dan menghapus perbudakan. "Hasilnya beda, Uni Soviet bubar, Amerika bertahan, Amerika selamat. Dari kedua negara besar itu, kuncinya di lembaga yudikatif. Uni Soviet lembaga yudikatifnya lemah, partai komunis masuk. Amerika Serikat, yudikatifnya kuat, sehingga mereka bertahan," ujar hakim yang mengawali karier sebagai calon hakim di PN Wamena pada 1971 itu. Adapun Indonesia akan memperingati HUT ke-74 pada tahun 2019. Satu-satunya lembaga yang belum pernah bubar sejak penjajahan adalah lembaga yudikatif. Adapun eksekutif silih berganti dan DPR pernah bubar pada 1959. Sehingga berdasarkan data dua negara adi daya itu, Ansyahrul sangat khawatir dengan kondisi Indonesia kekinian. Sementara itu ditempat lain, andriluntungan pengamat international, justru mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi insdoneia selama belum mapuh buat meningkatkan perkapita penduduk, atau minimal mampuh bisa memberikan per-orang dapat sehari berpenghasilan 200.000 ribu rupiah di tahun 2019 hal itu sudah bagus, buktinya, bagaimna ditahun 2018 ini, adakah keadaan ekonomi Indonesia l;ebih baik atau justru kacau.? para pakar itu sepertinya kurang berpihak kepada warga kecil yang kesushan saat ini mencari uang, para pakar yang sekarang berpihak dan meberikan buaiayan bahwa ekonomim kita sekarang stabil setidaknya dia pakar yang kurang berpihak kepada keadaan warga kecil yang mulai kesulitan mencari uang. "Seharusnya jika dia sudah tidak mampuh lagi buat meningkatkan taraf hidup bayak orang buat apa dia harus tetap bertahan sebagai pemimipin di Indonesia, apa tidak lebih baik dengan rendah hati segera mundur.? Buat saat ini saya berkeyakinan bahwa keadaan ekonomi Indonesia jika seperti ini, dan tidak ada lonjakan yang menojol bahkan justru membuat utang baru, menandakan, keraguan bagi penanam modal yang datang ke Indonesia, dan yang lebih menderita adalah rakyat. swering saya mengatakan dan memberikan saran kedaan ekonomi Indonesia jika tidak mengambil langkah kebijakan fiskal, yang dapat mendongkrak akan pertumbuhan ekonomi Indonesia jangan harap keadaan Indonesia akan kuat fudamental ekonominya.? Sekarang buktikan saja ditahun 2018 ini apakah ada peningkatan yang siknifikan,? ternyata tidak ada, yang ada kenaikanya juga tidak frontal atau meljit,justru sangat sedikit sekali, seharusnya melihat hal seperti ini, ada kebijakan fiskal yang lebih gereget, dan tidak monoton seperti ini. "sekarang saksikan saja, seperti apa seperti yang dikatakan bahwa pertumbuhan Indonesia membaik, dan sejauh apa juga, kebijakan fiskal yang akan dilakukan oleh pemerintah yang telah sempat memiliki utang baru itu.? Penglihatan saya menghadapi ditahun 2018 lambanya pertumbuhan ekonomi Indonesia menadakan kedepanya justru lebih parah.? dan jangan bicara pesimis tetapi ini dapat dilihat dari keadaan pertumubuhan ekonomni global yang ditrahun 2018 ini dapat dikatakan tidak menentu. dan imbasnya setidaknya, kena juga kepada Indonesia, oleh sebab itu sekarang jujur saja bahwa menghadapi hal seperti ini perlu adanya kehati -hatian. kedepannya dikawatirkan ekonomi Indonesia akan lebih terpuruk. "Akhirnya bisa -juga terjadi seperti di Afrika.? "Biasanya para pakar Indonesia yang sedang terbiaus dengan kepentingan dia menyajikan laporan lebih suka yang baik -baik saja pada hal keadaan aslinya, tidak seperti itu.?" Demikian andriluntungan Mengahiri perkataannya. (AL)

Opini Politik Di Indonesia Bagaikan.:"Sandwara Politik Indonesia?"

Beberapa tahun belakangan ini, perpolitikan di Indonesia memang menjadi perhatian publik. Media tidak henti-hentinya memberitakan keadaan politik Indonesia yang semakin hari semakin menarik untuk di perbincangkan. Isu politik memang salah satu isu yang menarik untuk didiskusikan selain isu pendidikan dan isu ekonomi. Kita tentu tahu penyebabnya kenapa. Perpolitikan di Indonesia memang menempuh gaya baru. Munculnya beberapa partai politik baru akhir-akhir tahun ini menambah keseruan bidang satu ini. Sebut saja misalnya dengan munculnya ormas perindo yang mendeklarasikan dirinya menjadi sebuah partai politik yang siap bertarung mengambil hati rakyat di pemilihan umum tahun 2019 mendatang. Tidak hanya itu, raja dangdut Rhoma Irama akibat kekecewaannya tidak di usung menjadi calon presedien di pilpres lalu juga ikut mendirikan partai baru yang siap berlaga yakni partai Idaman. Lanjut disusul dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang mengatasnamakan membawa fisi gender untuk siap juga bertarung dalam pemilu selanjutnya. Beberapa partai politik baru ini muncul akibat dari kesuksesan beberapa partai politik peserta pemilu tahun 2014 lalu. Sebut saja Partai Nasdem, Partai Hanura dan Partai Gerindra. Keberadaan partai-partai baru ini menjadi warna baru di parlemen yang setidaknya sangat berpengaruh dalam setiap pengambilan kebijakan. Misalnya partai Gerindra yang sukses pemilu lalu mengantarkan kadernya Prabowo Subianto menjadi calon presiden pada pilpres meskipun harus menelan kekalahan oleh pesaingnya yang menjadi presiden hari ini bapak Joko Widodo. Tetapi partai gerindra tentu berbangga karna menorehkan prestasi itu, tercatat partai besar ikut bergabung dengan mereka salah satunya adalah Partai Golkar dan PPP. Panggung sandiwara politik di Indonesia memang menarik untuk kita diskusikan. Setelah pelaksanaan pemilu 2014 sampai saat ini sandiwara politik Indonesia kembali menjadi perhatian setelah dua partai besar kita mengalami dualisme pengurusan. Partai Golongan Karya (Golkar) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Tentu publik ketahui bersama Golkar dan PPP adalah partai tua dan besar di Indonesia. Partai Golkar adalah partai pemenang pemilu beberapa dekade lamanya. 32 tahun masa rezim soeharto adalah masa emas partai golkar karena terus memenangkan setiap pemilu yang ada. Sejarah menorehkan partai ini adalah partai yang sudah tidak dapat diragukan lagi subangsihnya kepada negara tercinta ini. Sejarah Singkat Pemilu Indonesia Indonesia mencatat pemilu pertama yang diadakan adalah pada tahun 1955 semenjak Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya di tahun 1945. Usia Republik Indonesia waktu itu masih tergolong muda yakni berumur 10 tahun. Pada tahun ini, pemilihan umum dilakukan sebanyak dua kali yakni di tanggal 29 September untuk pemilihan anggota DPR dan tanggal 15 Desember untuk pemilihan anggota konstituante. Pada pemilu ini jumlah partai politik peserta pemilu sebanyak 29 partai dan mengantarkan Partai Nasional Indonesia (PNI) menjadi pemenang pada pemilu ini. Pemilu selanjutnya di lakukan pada masa orde baru yakni pada tahun 1971 pada tanggal 5 juli 1971. Pada waktu itu tercatat 9 partai politik dan satu organisasi masyarakat tercatat sebagai peserta pemilu dan menghantarkan Golkar sebagai pemenang pemilu. Pada pemilu selanjutnya dikurun tahun 1977-1997 pemilu dilakukan selama kurun waktu 5 tahun sekali yakni di tahun 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997 dengan tiga peserta pemilu saja yakni Golongan Karya (Golkar), Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan Partai Persatuan Pembangunan. Setiap perhelatan pemilu ini Golkar selalu keluar menjadi pemenang pemilu disusul dengan PPP dan terakhir PDI. Panggung sandiwara politik kita kembali memiliki sejarah yang tak terlupakan setelah dilengserkannya presiden ke-2 setelah kekuasaaan yang begitu panjang selama 32 tahun. Pada tanggal 21 Mei 1998 jabatan presiden di gantikan oleh wakil presiden waktu itu yakni bapak Bacharuddin Jusuf Habibie. Kemudian pada tanggal 7 Juni 1999 resmi digelar pemilu untuk memilih DPR, DPRD Tingkat I dan DPRD tingkat II. Tercatat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) keluar menjadi pemenang pada pemilu ini dengan memperoleh suara sebanyak 33,74% disusul oleh Partai Golkar sebanyak 22,44% dan PPP sebanyak 10,71%. Kemudian pemilu dilanjutkan pada tahun 2004 yang dimenangkan oleh partai Golkar, kemudian pemilu tahun 2009 dimenangkan oleh partai Demokrat. Sedangkan ditahun 2014 lalu pemilu dimenangkan oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Baca Juga : Sejarah perjalanan partai politik ini tentunya sejalan dengan pendewasaan demokrasi di Indonesia. Sejarah ini juga sudah mencatat setidaknya sebanyak 4 kali perubahan UUD 1945 yang tentunya merubah secara fundamental sistem ketatatnegaraan Indonesia termasuk didalamnya melakukan perubahan atas UU Partai Politik dan UU Pemilu. Sejarah panjang pemilu kita memang menyisakan pelajaran berharga bagi kita semua penduduk Indonesia. Hari ini dunia politik tanah air sedang carut marutnya. Pertikaian dengan kubu masing-masing mewarnai dibeberapa partai politik. Sebut saja Partai Golongan Karya dengan dualismenya Kubu Aburizal Bakrie dengan kubu Agung Laksono. Tidak hanya Partai Golkar rivalnya dari tahun 1977 Partai Persatuan Pembangunan pun sama terbelah menjadi dua kubu yakni Kubu Romahurmuzy dan Kubu Djan Farid. Panggung politik kita hari ini lebih dominan di hiasi oleh perkelahian internal partai. Sedangkan yang seharusnya dilakukan yakni membela kepentingan bangsa sudah tidak mereka hiraukan lagi. Panggung politik kita seraya sandiwara teater diatas panggung untuk menjadi tontonan semua orang. Aktor-aktornya kemudian melakukan sandiwara atas lakon yang mereka perankan masing-masing. Kemudian sandiwara itu akan menjadi menarik apabila dilakukan dengan konflik yang ditawarkan. Kita tentu ketahui bahwa, tatanan sebuah negara yang dijalankan oleh pemerintah tidak bisa kemudian dibiarkan mengalir begitu saja tanpa ada kontrol yang yang dilakukan dalam penegakkannya, sehingga dalam konsep negara modern setidaknya dibutuhkan tiga lembaga Negara yan terdiri dari Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif. Ketiga lembaga ini tentunya diharapkan menjalankan tugas dan wewenangnya seefektif mungkin demi tercapainya tujuan bernegara. Tentu dalam menjalankan penegakkannya demi mencapai tujuan ketiga lembaga ini harus melakukan mekanisme chack and balances system. Dengan adanya sistem ini ketiga lembaga ini tidak lagi kemudian saling mengkalaim lembaga tertinggi negara. Inilah wajah politik kita hari ini, memang tidak menjadi kesalahan apabila ini terjadi. Namun keyika ini terus akan seperti ini maka wajah politik kita ditahun kedepan akan hanya menjadi tontonan saja. Tidak kemudian menjadi sesuatu yang berharga lagi. Ingat bahwa pada politik ini lahirnya pemimpin yang akan membawa pemerintahan. Jika sudah seperti ini kepada siapa lagi rakyat mengadahkan harapannya. Semoga wajah politik Indonesia akan lebih baik lagi. Tidak menutup kemungkinan bahwa wajah panggung politik kita akan banyak mengalami perkembangan di masa yang akan datang. Perjalanan sejarah ini akan menjadi memori yang terus akan dikenang dalam sejarah untuk mencapai hal yang lebih baik nantinya di masa yang akan datang. Kepada partai yang masih bertikai, sudahlah akhiri semua ini. Tugas panjang masih banyak menjadi pekerjaan rumah kita bersama untuk kita selesaikan. Rakyat yang menjadi kedaulatan dan kekuatan penuh menantikan hasil dari tangan-tangan kalian semua. Bertikai hanya menghabiskan tenaga tanpa menapatkan hasil yang baik. Pendewasaan ilmu politik kita semakin tahun-semakin baik maka jangan kemudian coreng dengan kepentingan-kepentingan sesaat saja. Ingat rakyat Indonesia memilihmu untuk mewakili aspirasi mereka bukan kemudian ingin mendengar dan melihat akan gila kekuasaan. Maka mari kita kembali memperjuangkan rakyat dengan cara masing-masing. ( Uji Coba)

"Opini Keadaan Politik Di Indonesia Kemana Arahnya.?"

Politik Indonesia dewasa ini seperti sedang mendominasi wacana di media. Layaknya gula yang sedang di kelilingi semut, seperti itulah media yang memberitakan kondisi politik di Indonesia. Saat ini kondisi politik yang terjadi justru saling memperebutkan kekuasaan. Para penjabat yang memiliki kekuasaan telah melupakan masyarakat. Janji – janji yang dulu di buat justru di lupakan seiring dengan kursi kekuasaan yang di peroleh. Seolah tidak menerima dengan kemenangan sang rival, maka berusaha mencari kesalahan untuk dapat menggulingkan. Kondisi politik di Indonesia sangatlah memprihatinkan. Para pejabat masih saja sibuk mengurusi kursi jabatannya. Lagi – lagi mereka melupakan soal rakyat. Semisal saja soal kasus suap wisma atlet. kita ketahui bahwa Anggelina S merupakan kunci dari bobroknya korupsi yang terjadi di Wisma Atlet. Namun, apa yang terjadi? Apakah Anggelina S berbicara jujur terkait korupsi yang terjadi di Wisma Atlet? Tidak kawan, justru beliau menutupi kondisi yang sebenarnya terjadi. Kondisi tersebut sangatlah memprihatinkan. Hal tersebut masih salah satu contoh yang ada. Berbicara kondisi politik di Indonesia maka tidak akan jauh dari sebuah kekuasaan. Dewasa ini politik justru seringkali di gunakan sebagai alat untuk mencapai kekuasaan. Ntah dengan apa pun, tidak melihat rambu rambu yang ada, hal yang terpenting kursi kekuasaan harus di dapat. Namun, kursi kekuasaan itu harus di bayar dengan pengorbanan yang besar juga baik itu fikiran dan materil. Akhirnya rakyat yang menjadi korban dari kondisi politik yang ada sekarang. Para birokrat bangsa ini sepertinya masih terlalu sibuk untuk terus berebut kursi kekuasaan. Sebenarnya politik layaknya sebuah pisau. Bila pisau tersebut di gunakan oleh ibu rumah tangga untuk memasak maka pisau akanlah sangat bermanfaat. Maka akan tersedia hidangan yang lezat untuk keluarga. Namun beda cerita bila pisau tersebut di gunakan oleh pembunuh. Maka yang terjadi adalah sebuah kesedihan dan kesengsaraan yang terjadi. Begitu pula dengan politik, ia akan bisa menjadi sebuah alat untuk mencapai sebuah kebahagiaan atau malah menjadi sebuah kesengsaraan. Dewasa ini, para politikus yang ada justru tidak mampu memberikan sebuah kesejukan di tengah gerahnya suasana politik yang ada. Para politikus ini nampaknya masih terlalu sibuk. Padahal rakyat Indonesia di luar sana menjadi korban mereka. Kita semua bisa melihat gejala mati rasa penyelenggara negara misalnya dalam soal pembelian mobil mewah untuk para menteri Kabinet Indonesia Bersatu II atau juga pembangunan pagar istana presiden yang menelan biaya puluhan miliar rupiah. Kebijakan itu jelas mencederai rasa keadilan publik karena di saat yang sama kemiskinan masih mengharu biru Indonesia (jumlah orang miskin di Indonesia per Maret 2010 berdasar BPS sebanyak 31,02 juta orang–relatif tak banyak berubah jika dibandingkan dengan data per Februari 2005, yakni sebesar 35,10 juta orang). Publik juga bisa melihat bagaimana penyikapan kasus Lapindo, terjadinya ‘kriminalisasi’ terhadap dua pemimpin KPK, penanganan kasus Bank Century yang belum jelas bagaimana akhirnya, serta kuatnya nuansa tebang pilih terhadap penanganan kasus korupsi. Kesemuanya itu adalah contoh-contoh lain yang harus diakui kian mengiris rasa keadilan. Kendati dibalut pernyataan-pernyataan yang apik dan santun, toh penyikapan dari penyelenggara negara terhadap kasus-kasus tersebut tetap saja dinilai jauh dari komitmen untuk mewujudkan aspirasi dan kehendak rakyat. Selain contoh contoh yang ada di atas, masih banyak kita lihat masalah soal kemiskinan, putus sekolah dan kelaparan. Namun sepertinya para pejabat ini masih belum tersentuh untuk menuju ke situ akhirnya masih berkutat dengan masalah kekuasaan. Sebenarnya politik tidak hanya di kekuasaan saja. Namun ekonomi pun sudah di politikkan. Sebenarnya politik itu merupakan bagaimana seseorang mampu mempengaruhi orang sekelompok lain agar mengikuti gagasan yang kita fikirkan. Dalam aspek obyektif, Sukardi mencontohkan harga cabai yang makin hari semakin mahal. Kondisi tersebut akan semakin parah bila pemerintah mengeluarkan kebijakan yang tergesa-gesa, misalnya dengan kenaikan harga tiket kereta ekonomi. Momentum ini bisa dipakai untuk menyerang kekuatan politik lawannya. Untuk aspek dari daerah, Sukardi mencontohkan polemik keistimewaan Yogyakarta yang hingga saat ini masih berlarut-larut. Menurut Sukardi, pemerintah harus cepat menyelesaikan polemik tersebut. Kalau tidak, masalah itu juga akan dijadikan partai lain sebagai amunisi untuk menyerang Demokrat. Sekarang ini keadaan politik di Indonesia tidak seperti yang diinginkan. Banyak rakyat beranggapan bahwa politik di Indonesia adalah sesuatu yang hanya mementingkan dan merebut kekuasaan dengan menghalalkan segala cara. Pemerintah Indonesia pun tidak mampu menjalankan fungsinya sebagai wakil rakyat. Hal ini ditunjukkan oleh sebagian rakyat yang mengeluh, karena hidup mereka belum dapat disejahterakan oleh negara. Pandangan masyarakat terhadap politik itu sendiri menjadi buruk, dikarenakan pemerintah Indonesia yang tidak menjalankan kewajibannya sebagai wakil rakyat dengan baik.bagi mereka politik hanyalah sesuatu yang buruk dalam mencapai kekuasaan. Jika hal ini terus di biarkan, maka seperti bom yang terus di pendam. Maka suatu saat akan meletus juga. Jika kondisi pemerintah terus seperti ini maka tidakl mustahil jika rakyat tidak akan percaya dengan politik. Ketidakpercayaan para rakyat inilah yang sangat berbahaya bagi kestabilan negara. Akibatnya masyarakat akan cenderung apatis terhadap kondisi sebuah negara. Karena kestabilan negara juga di pengaruhi oleh kestabilan politik yang ada di negara tersebut. Apabila gejolak politik di suatu negara terus menerus bergejolak maka tidak mustahil jika terjadi peperangan. Akibatnya masyarakat yang menjadi korban seperti negara negara di timur tengah. Kesimpulan : Rakyat Indonesia belum merasakan kinerja yang baik dari pemerintah Indonesia, malahan membuat mereka memandang buruk terhadap politik itu sendiri. Selain itu, para generasi muda Indonesia haruslah diperkenalkan dengan politik yang sebenarnya, agar dikemudian hari mereka dapat menjadi generasi baru yang lebih bertanggung jawab. Sehingga kondisi bangsa ini tidak terus terpuruk akibat politik tidak bertanggungjawab para pejabat sekarang. Sedah seharusnya kita membanahi bangsa ini. Karena bila kondisi seperti ini terus di budayakan, maka bukanlah hal yang mustahil jika suatu saat nanti nama Indonesia hanya tinggal sejarah(AL)

Tahun Politik 2018 Di Indonesia Pertumubuhan Ekonominya Di Ragukan.!

Indonesia -Laju pertumbuhan ekonomi di 2018 yang disebut tahun politik, diperkirakan baka l merosot. Pemerintah pun diprediksi bakal kesulitan mencapai target pertumbuhan ekonomi seperti tercantum di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 sebesar 5,4 persen. Akibat dari semua ini beban rakyat semakin berat, daya beli melemah dan pengangguran meningkat. “Tahun politik 2018 ekonomi Indonesia bakal merosot sehingga beban rakyat semakin berat, kemiskinan dan pengangguran semakin bertambah. Oleh karena itu 2018 menjadi tahun pertaruhan besar bagi rezim Jokowi di bidang Ekonomi, ” kata pengamat politik dari Institute For Strategic and Development Studies (ISDS), M. Aminudin menjawab Harian Terbit. Senin (2/1/2018) Pengamat ekonomi Faisa Basri mengemukakan, laju perumbuhan ekonomi tahun 2018 diperkirakan masih akan seret. Pemerintah pun diprediksi bakal kesulitan mencapai target pertumbuhan ekonomi seperti tercantum di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 sebesar 5,4 persen. Seperti dilansir Kontan, ekonom UI ini menyebut, laju ekonomi tahun depan masih sama dengan tahun ini, yakni 5 persen. Hal itu sebut dia, disebabkan oleh masyarakat yang masih akan menahan belanja. Padahal, konsumsi rumah tangga adalah penyumbang terbesar produk domestik bruto (PDB), yaitu di atas 50 persen. Sembako Naik Aminudin menilai, situasi ekonomi makin memburuk jika 2018 Jokowi menaikkan harga sejumlah kebutuhan pokok dasar rakyat seperti BBM, listrik, gas dan pajak. Selain akan mencekik kebutuhan rakyat, menaikan kebutuhan mendasar rakyat juga akan membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar semakin merosot. Namun kenaikan harga-harga kebutuhan pokok tersebut bisa diantisipasi jika partai-partai yang diluar berkuasa membela kepentingan rakyat. "Jika partai oposisi tetap belum bangkit dari tidurnya maka mereka tak banyak bisa panen mendapatkan dukungan dari pemilih. Karena pemilih pasti akan banyak golput," paparnya. Sementara itu, pengamat politik dari Perhimpunan Masyarakat Madani (Prima) Sya'roni mengatakan, tahun 2018 sudah diidentikkan sebagai laga persaingan politik baik dalam kontek Pilkada 2018 maupun persiapan menuju Pilpres 2019. Oleh karenanya perhatian elit politik akan fokus untuk memenangkan peluangnya. Sehingga sudah tidak ada lagi pemikiran untuk memakmurkan rakyat yang merupakan tanggungjawabnya sebagai elit politik. "Kalaupun ada bantuan atau program bagi-bagi uang kepada rakyat tidak lebih hanyalah modus untuk membeli suara," papar Sya'roni. Lebih lanjut Sya'roni mengatakan, mengingat pertumbuhan ekonomi selama 3 tahun pemerintahan Jokowi hanya berkisar diangka 5 persen, maka dengan masuknya tahun politik akan semakin menekan daya gerak ekonomi. Akibatnya daya beli masyarakat akan semakin turun. Apalagi tahun politik identik dengan kegaduhan dan bahkan instabilitas keamanan, maka dipastikan para pelaku ekonomi akan lebih memilih menunggu berlalunya tahun politik. "Sikap wait and see para investor dipastikan akan memperburuk gerak perekonomian," paparnya. Sya'roni menuturkan, bila para elit politik sudah fokus memikirkan nasibnya sendiri maka para investor juga lebih memilih diam menunggu. Akibatnya yang menerima dampak buruknya adalah rakyat kecil yang akan semakin terdesak kebutuhan hidupnya. Apalagi selama ini ekonomi bergerak tanpa lokomotif. Oleh karenanya sebagai antisipasi maka 2018 ini diharapkan agar rakyat harus lebih krearif menggali sumber-sumber ekonomi untuk memperbaiki taraf kehidupan ekonominya. Lima Persen Pertumbuhan ekonomi saat ini memang masih berkutat di kisaran lima persen. Pada 2017, pertumbuhan ekonomi diperkirakan hanya mencapai 5,1 persen, di bawah target APBN-P 2017 sebanyak 5,2 persen. Sementara itu, pada 2018, pertumbuhan ekonomi ditargetkan mencapai 5,4 persen. Indonesia dikhawatirkan bisa menjadi "ekonomi lima persenan" mengingat pertumbuhan kredit yang masih relatif melambat dalam beberapa tahun terakhir. "Dengan pertumbuhan kredit hanya sekitar 8-10 persen, maka ekonomi Indonesia menjadi "ekonomi yang tumbuh lima persenan", bahkan sampai tahun 2019," kata ekonom senior Umar Juoro.

Prabowo Sbianto Disambut Dekalrasinya Oleh Partai Keadailan

Jakarta Indonesia - Pendeklarasian Prabowo Subianto sebagai calon presiden (capres) disambut gembira oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Bahkan, Presiden PKS Sohibul Iman telah menyodorkan sembilan nama kepada Prabowo untuk dipilih menjadi cawapres pendampingnya. "Pak Prabowo telah diamanahi oleh partainya maju menjadi capres. Karena kita berkoalisi, PKS sudah menyodorkan nama-nama yang bisa dipilih menjadi cawapres kepada Pak Prabowo," kata Sohibul di Jakarta, Sabtu (15/4/18). Dia mengatakan, usulan nama-nama tersebut memang menjadi salah satu syarat koalisi dari partai PKS. Karena itu, jika Partai Gerindra ingin berkoalisi dengan PKS pada Pemilu 2019, Prabowo mesti memilih satu dari sembilan nama yang disodorkan untuk dijadikan cawapres tersebut. "Kami sudah sampaikan kepada Pak Prabowo. Kalau Gerindra ingin berkoalisi dengan PKS maka salah satunya Pak Prabowo harus memilih cawapres dari PKS," ujar Sohibul. Sembilan nama kader PKS yang akan diusung menjadi pendamping Prabowo pada Pemilu 2019 ialah Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher), Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, mantan presiden PKS Anis Matta, Gubernur Sumatra Barat Irwan Prayitno, Presiden PKS Sohibul Iman, Ketua Majelis Syura PKS Salim Segaf Al Jufri, mantan menkominfo Tifatul Sembiring, Muzammil Yusuf, dan Mardani Ali Sera. Prabowo memiliki tugas untuk menemukan pasangan yang memiliki elektabilitas dan dukungan mesin politik tinggi. Sampai sejauh ini, Prabowo maupun Gerindra belum menunjuk secara pasti sosok yang akan menjadi wakilnya dalam pemilihan presiden 2019. Partai Gerindra mengumumkan hasil rapat koordinasi nasional (rakornas) yang menyimpulkan pemberian mandat bagi Prabowo untuk maju sebagai capres dalam pilpres 2019 di Bogor, Rabu (11/4). Prabowo menyatakan siap menerima mandat yang diberikan tersebut. Elektabilitas cawapres rendah Pengamat politik dari Universitas Paramadina, Toto Sugiarto, menilai elektabilitas tokoh dari PKS atau PAN untuk menjadi cawapres Prabowo masih tergolong rendah. Namun, Toto mengakui, mesin politik kedua partai, khususnya PKS, memang kuat. Itu memang akan mempermudah konsolidasi di akar rumput. Namun, menurut dia, Prabowo juga harus mencari sosok cawapres yang mampu membawakan suara dalam jumlah besar. Di mata pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro, keputusan Prabowo untuk maju pada pilpres 2019 belum final. Pasalnya, Prabowo juga masih akan koalisi dengan partai lain sehingga keputusan itu akan diambil bersama partai koalisi. ‘’Saya pada dasarnya belum melihat apa yang disampaikan final. Bagaimana pun juga Pak Prabowo tidak sendiri karena harus melakukan koalisi. Kalau koalisi tiga partai kemarin, mengerucutnya seperti apa pasangannya,’’ ujar Siti, Jumat (13/4). Siti menuturkan, masih banyak opsi untuk memutuskan pasangan calon yang akan diusung partai koalisi oposisi pemerintah tersebut. Oleh karena itu, konstelasi politik masih dinamis. ‘’Masih belum final, masih cair, masih dinamis, masih penuh opsi,’’ ucapnya. Menurut Siti, walau Partai Gerindra menyatakan resmi mengusung Prabowo Subianto sebagai capres pada Rabu, Gerindra juga mengumumkan bahwa pencapresan Prabowo tersebut masih soft declaration. ‘’Masih mempertimbangkan teks dan konteksnya, karena politik itu teks dan konteks,’’ kata Siti. Kalaupun deklarasi pencapresan tersebut sebagai strategi politik, tambah Siti, hal itu belum cukup komprehensif untuk menentukan capres yang akan diusung. Sebab, menurut dia, Gerindra pasti akan akan melakukan kalkulasi dulu.(Numpang javabarat)

Sebagian Besar Negara Timur Tengah Sepakat Serangan Amerika Di Suriah

akhirnya semua Negara sepakat akan segala serangan Amerika dan sekutunya, kepada suriah seperti yang dikatakan, Presiden Turki Tayyip Erdogan menyambut serangan pasukan AS, Inggris dan Perancis di Suriah, mengatakan bahwa operasi mengirim pesan ke Suriah Bashar al-Assad. Dengan operasi gabungan oleh AS, Inggris dan Perancis pada hari Sabtu, rezim Suriah menerima pesan bahwa pembantaian-pembantaian itu tidak akan dibiarkan tanpa dijawab, ”kata Erdogan kepada pendukung Partai AKnya yang berkuasa dalam sebuah pertemuan di Istanbul. Semantara itu ,UNITED NATIONS - Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa gagal mengadopsi resolusi rancangan Rusia pada Sabtu yang akan mengutuk "agresi terhadap Republik Arab Suriah oleh AS dan sekutunya yang melanggar hukum internasional dan Piagam PBB." Hanya Rusia, Cina dan Bolivia yang mendukung rancangan resolusi. Delapan negara memilih menentang rancangan itu, sementara empat negara abstain. Resolusi membutuhkan sembilan suara mendukung dan tidak ada veto oleh Rusia, Cina, Prancis, Inggris atau Amerika Serikat untuk diloloskan, Jika sudah seperti ini, setidaknya, apa yang mau dikatakan, oleh sebab semua negara telah sepakat, akan serangan itu. "mendengar semua itu jelas, apa yang dilakukan Amerika terhadap Suriah bagaikan mendapat persetujuan oleh berbagai negara, seharusnya pihak suriah mendapatkan hal seperti ini, pemimipin disana sadar dan segera memmbuat resolisi, mencari jalan, artinya jangan menunggu hancur, baru pemimpin suriah menyerah atau menyatakan siap mundur.? demikian andriluntuingan pengamat international mengatakan.pada Jurnalis com. " Andri juga menambahkan, keadaan disuriah bagaikan sebauah buah simalakama, artinya bertahan pasti hancur, nelawan apalagi.?. oleh sebab itu apa salahanya, jika Pemimpin suriah segera kembali berpikir, dan segera juga mengambi jalan yang terbaik, demi keadaan di Suriah agar lebih kondusip.Artinya, minta agar kepada Amerika dan sekutunya, bahwa siap buat menuruti apa kemauan mereka itu.? Selama Suriah tetap berkerasm dana tidak mau juga mengalah disana akan lebih, membuat menderita rakyatnya. inilah saran yang saya berikan buat pemimpin di Suriah itu. Mungkin buat saat ini apa yang sarankan belum sempat terpikirkan oleh pemimpin Suriah, namun kedepannya tidak menutup kemungkinan kan dilakukan juga.! seandainya tidak juga buat saya sebagai pengamat tidak maslah. Persoalanya sekarang pemimpin Suriah setidaknya menghadapi serangan dari Amerika dan sekutunya sedang panik sehingga tidak sempat buat berpikir panjang lagi.? padahal jika dari awal pemimpin Auriah menuruti apa kemauan Amerika setidaknya, tidak mungkin ada serangan seperti itu. "sekarang semua telah terjadi dan tinggal sebelum terlamjur lebih hancur, segera pemimpin Suriah,mengambil jalan yang terbaik, dan memurut saya buat kesepakatan baru, dan cari resolusi damaia. demikian andri luntungan mengahiri perkataaannya. ( Saiah Suriah

Desain Andri

Wage growth well short of what was promised from tax reform | TheHill

Wage growth well short of what was promised from tax reform

The latest Employment Situation report from the Bureau of Labor Statistics shows weekly employee earnings have grown $75 since tax reform passed, well short of the $4,000 to $9,000 annual increases projected by President TrumpDonald John TrumpRobert De Niro, Ben Stiller play Mueller and Cohen in 'SNL' parody of 'Meet the Parents' Trump order targets wide swath of public assistance programs Comey says Trump reacted to news of Russian meddling by asking if it changed election results MORE and House Speaker Paul RyanPaul Davis RyanTrump order targets wide swath of public assistance programs Sunday shows preview: White House officials talk Syria strike Wage growth well short of what was promised from tax reform MORE (R-Wis.).  

During the three months following passage of the tax bill, the average American saw a $6.21 increase in average weekly earnings. Assuming 12 weeks of work during the three months following passage of the corporate tax cuts, this equates to a $75 increase.

Assuming a full 52 weeks of work, the $6.21 increase in weekly earnings would result in a $323 annual increase, nowhere near the minimum $4,000 promised and $9,000 potential annual increases projected by President Trump and Speaker Ryan if significant cuts were made to corporate tax rates.

Unless something drastically changes, it seems that Americans are going to have to settle for much less than the $4,000 to $9,000 projected wage increases. An extra $322 a year isn’t going to do much to pay down the $1 trillion in additional debt they are projected to take on as a result of the tax cuts.

Yet, a key part of the argument for the recently passed corporate tax cuts and more than a trillion dollars in debt was the substantial wage hike promised by the president’s Council of Economic Advisers (CEA).

From a document titled, “Corporate Tax Reform and Wages: Theory and Evidence,” on the White House’s website:

“Reducing the statutory federal corporate tax rate from 35 to 20 percent would, the analysis below suggests, increase average household income in the United States by, very conservatively, $4,000 annually.”

The document goes on to say:

“When we use the more optimistic estimates from the literature, wage boosts are over $9,000 for the average U.S. household.”

No less than Speaker Ryan’s website trumpeted the Council of Economic Advisers report claiming that on average, the proposed corporate tax cuts would result in at least a $4,000 annual increase in wages.

Now, some supporters of the tax bill may say this analysis is unfair because it is too early for the effects of the tax bill to show up in wages. By that logic, they also shouldn’t take credit for reported employment growth increases.  

Still others may point to the $1,000 bonuses announced by some companies shortly after passage of the tax bill. First, that is significantly less than the promised $4,000 to $9,000. Second, these are not wage increases; these are one-time bonuses.

Will companies pay them again, and if so when? Third, the $1,000 represents a fraction of the estimated potential company tax savings.

Using 2016 net income, 2016 effective tax rates, the new 21-percent corporate tax rate and company bonuses, we estimated company bonuses as a percentage of a number of company’s potential tax savings. The results: In many cases, the bonuses represent a mere pittance of the possible tax savings.

Navient announced that it would be giving $1,000 bonuses to 98 percent of its 6,7000 employees, paying out nearly $7 million in bonuses. While that may seem generous, it pales in comparison to Navient’s potential tax savings.

Using Navient’s 2016 net income, its 2016 effective tax rate, estimated annual tax savings of nearly $200 million and its announced bonuses, we calculated that the announced bonuses represent less than 4 percent of Navient’s potential tax savings.

Turning to the airline industry, JetBlue’s employees might be feeling blue if they realized that their $1,000 bonuses are estimated to be less than 10 percent of JetBlue’s potential tax savings, while American Airlines’ bonuses are estimated to represent less than 15 percent of its estimated potential annual tax savings

Not to be outdone, Comcast’s bonuses represent less than 8 percent of its estimated potential annual tax savings, while Walmart appears downright generous, giving an estimated $0.16 of every dollar of its estimated potential annual tax savings to employees in the form of bonuses.

Image and video hosting by TinyPic 

Source: Solutionomics

What happened to the minimum $4,000 promised? I guess like many promises by politicians, they were empty. Instead, they seem to have gone to share buybacks. For the period December 2017 through February 2018, share buybacks more than doubled to $200 million.

Is a $323 wage increase and a one-time bonus of $1,000 that represents a fraction of estimated potential company tax savings worth the more than $1 trillion in additional debt placed on Americans? Is this the best Congress could do? No.

Instead, Congress could have simply made each company’s tax cut contingent on each company increasing wages. The problem is that some companies receiving tax cuts didn’t raise wages.

If Congress had made each company’s tax cut contingent on each company’s wage increases, the American people would have gotten more bang for their tax cut bucks. Additionally, this would have created a real incentive for companies to raise wages: Increase wages, get a tax cut; don’t and you won’t.

If the justification for saddling the American people with at least $1 trillion in additional debt was greater wage growth, tax cuts should have been tied to each company’s wage growth; that’s just logical. That’s getting a better deal for the American people, and that’s getting a better return on investment.

Chris Macke is the founder of Solutionomics, a think tank focused on developing solutions for a more efficient, merit-based corporate tax code. He has advised the U.S. Federal Reserve by providing market updates and implications of monetary policy changes on asset valuations and market distortions, and he's a contributor to the Fed Beige Book. Find him on Twitter: @solutionomics.

Load Comments (984)
 

France issues report detailing evidence of Assad role in chemical attacks

France issues report detailing evidence of Assad role in chemical attacks

France declassified a report on Saturday laying out evidence that officials said proves that a chemical attack in Syria last week was carried out by the government of President Bashar Assad.

The report claims that several chemical strikes were carried out in the Damascus suburb of Douma on April 7, and that symptoms experienced by the victims — skin burns, suffocation and other breathing difficulties, among other markers — were consistent with the effects of chlorine gas.

"Reliable intelligence indicates that Syrian military officials have coordinated what appears to be the use of chemical weapons containing chlorine on Douma, on April 7," the report, released by the French Foreign Ministry, reads.

ADVERTISEMENT

The report also states that the Syrian government has carried out a number of chemical weapons strikes since April 4, 2017 — the same day a chemical attack in Syria's northern Idlib province left more than 80 civilians dead.

The U.S. issued an assessment on Friday night pointing to the Syrian government's role in the alleged chemical attacks in Douma.

That report cites "multiple media sources, the reported symptoms experienced by victims, videos and images showing two assessed barrel bombs from the attack, and reliable information indicating coordination between Syrian military officials before the attack."

The assessment also suggests that the Syrian government not only used chlorine in the attack on Douma, but that reported symptoms were also consistent with exposure to sarin, a deadly nerve agent.

The French and U.S. assessments came hours after leaders in Washington, Paris and London authorized "precision strikes" on targets in Syria believed to be associated with the country's chemical weapons arsenal.

Syria and its allies, Russia and Iran, have denied that Assad's government used chemical weapons, and have sought to blame both foreign actors and militant groups for staging the attacks in Douma.

Russia has accused the U.S. and its allies of failing to produce adequate evidence of the Syrian government's role in the chemical attack.

The Organization for the Prohibition of Chemical Weapons, the international chemical weapons watchdog, launched an investigation into the alleged chemical strikes on Douma on Saturday.

The allied strikes on Friday were cast by U.S. officials, not as a punishment for Assad's government, but as a means to eradicate Syria's chemical stockpile and production capabilities.

Lt. Gen. Kenneth McKenzie, the director of the Joint Staff, said Saturday that while the allied attacks dealt a blow to Syria's chemical weapons program, Damascus likely retained "residual" elements of its chemical arsenal.

President TrumpDonald John TrumpInfowars' Alex Jones blasts Trump over airstrikes: 'He's crapping all over us' McCain to Trump: Airstrikes alone won't achieve objectives in Syria Top general: US did not notify Russia on Syria targets MORE and other U.S. officials have said that they are prepared to take further action in Syria, unless Assad's government ceases its alleged use of chemical weapons.

Load Comments (254)
 

Mueller can prove Cohen made secret trip to Prague before the election: report

Special counsel Robert MuellerRobert Swan MuellerSasse: US should applaud choice of Mueller to lead Russia probe MORE’s team has proof that President TrumpDonald John TrumpRobert De Niro, Ben Stiller play Mueller and Cohen in 'SNL' parody of 'Meet the Parents' Trump order targets wide swath of public assistance programs Comey says Trump reacted to news of Russian meddling by asking if it changed election results MORE’s personal lawyer made a secret trip to Prague during the 2016 campaign despite his denial that he'd ever been there, McClatchy reported Friday.

It is not clear why Michael Cohen was in Prague. The claim he visited was originally made in a dossier compiled by former British spy Christopher Steele.

Cohen denied that he'd ever been to Prague "in my life" after the dossier's publication, tweeting a photo of his passport.

McClatchy reported that Cohen entered the country through Germany in August or early September 2016, which does not require a passport stamp.

The dossier claimed that, in Prague, Cohen met with a prominent ally of Russian President Vladimir Putin, Konstantin Kosachev, but it is not clear whether Mueller has evidence of such a meeting.

Koschahev was one of 24 Russian oligarchs slapped with U.S. sanctions earlier this month.

If such a meeting happened, it would be further evidence of ties between Trump associates and Putin. The dossier also claims that Cohen, among others, was deeply involved in a “cover up and damage limitation operation in the attempt to prevent the full details of Trump’s relationship with Russia being exposed.”

Neither Cohen nor Mueller commented on the story to McClatchy.

The report comes on the same day that U.S attorneys confirmed that they are investigating Cohen for criminal activity.

The FBI raided Cohen's office and home on Monday, in part on a referral from Mueller's office. 

 
Quantcast
France issues report detailing evidence of Assad role in chemical attacks
READ NEXT: France issues report detailing evidence of Assad role in chemical attacks

tes

tes01

UN Women | End Violence against Women

desain P.

United Nations News Centre

News by region: Americas


Eric Garner, Michael Brown cases spark ‘legitimate concerns’ about US policing – UN experts

5 December – Grand jury verdicts in the United States which resulted in the decisions to not bring to trial the cases of two unarmed African-American men killed by police forces have sparked “legitimate concerns” regarding policing practices across the country, a group of United Nations human rights experts said today.


US should respond to public demands for greater police accountability – Ban

4 December – In the wake of a grand jury decision in New York yesterday not to indict a police officer in the chokehold death of Eric Garner, an unarmed man, in July, United Nations Secretary General Ban Ki-moon has urged the United States to do “anything possible to respond to demands of greater accountability.”


UN rights experts call on US to commute death sentence of mentally ill prisoner

2 December – Two United Nations human rights experts today urged the United States Government and the authorities in Texas to halt the execution of Scott Panetti, a prisoner with proven psychosocial disabilities, due to be carried out on 3 December.


Paraguay: UN expert concerned over indigenous peoples’ rights to land, resources

1 December – The United Nations Special Rapporteur on the rights of indigenous peoples identified a number of ongoing challenges remaining in Paraguay as she ended an eight-day official visit to the country on Friday.


UN rights experts urge US President Obama to release report on CIA torture allegations

26 November – The United States must rise to meet the high human rights standards it has set for itself and others around the world, a group of United Nations human rights experts urged today, as they called on President Obama to support “the fullest possible release” of a report detailing Central Intelligence Agency (CIA) interrogation practices.


UN rights chief concerned over 'disproportionate' killings of African-Americans by US police

25 November – The decision by a Grand Jury in Missouri to absolve a police officer for the fatal shooting of an African-American teenager has spotlighted broader concerns about institutionalized discrimination across the United States, the top United Nations human rights official said today.


Haiti: UN mission chief urges calm, respect for rights in wake of protests

25 November – Amid rising tensions Port-au-Prince and other key Haitian cities in the wake of last month’s delayed elections, the top United Nations official in the country deplored the violence that recently caused injuries among demonstrators and called on all sides to respect the right to free expression while also avoiding any recourse to violence.


Mexico: UN rights office notes ‘deep concerns’ over case of missing students

14 November – The United Nations Human Rights Office (OHCHR) today cautioned against jumping to conclusions regarding the “complex and ongoing” investigation into the disappearance of 43 students in Mexico, amid reports that a number badly burned bodies have been recovered from sites in Guerrero state.


13 November – The top United Nations coordinator for cholera response in Haiti says support for initiatives to combat the disease has been “disappointing,” noting that while it may be possible to eliminate cholera in about a decade, at the current rate of funding, it would take more than 40 years to do the job.
UN rights office voices concern over Dominican Republic’s ruling on regional court

7 November – The United Nations human rights office today voiced deep concern about a recent Dominican Constitutional Court’s ruling that the country’s recognition of the competence of the Inter-American Court of Human Rights is unconstitutional.


<
This Week at the UN - Friday, 5 December 2014

Newsmakers

  • Amina J. Mohammed
  • Amina J. Mohammed

    ...by 2030 we can end poverty, we can transform lives and we can find ways to protect the planet while doing that.

    More »



UN Women | End Violence against Women


Headlines at a glance

7 December

'We will provide whatever is needed', UN pledges response to Philippines typhoon

Somalia: UN Envoy 'appalled' by deadly terrorist attacks in Baidoa, calls for political unity


5 December

Half a million displaced in eastern Ukraine as winter looms, warns UN refugee agency

UN chief scores goal for peace in football game to mark 'Christmas Truce' of 1914

DR Congo: UN refugee agency concerned at sudden closure of displaced persons camp

Indian Ocean: UN warns of uptick in clandestine migration despite ‘horrific’ dangers

‘Dark day for justice’ says ICC Prosecutor, dropping charges against Kenyan President

UN report urges more funds for climate change adaptation, warns on temperature rise

World must do 'whatever it takes' to ensure recovery of Ebola-affected countries – Ban

‘Turning blind eye not a solution’ to Mediterranean migrant crisis – UN rights expert

UN relief agencies prepare emergency response as typhoon approaches Philippines

‘Humane impulse to assist’ leads to enriched life, UN chief says on global Volunteer Day

Central African Republic: UN chief says security fragile, calls for vote by August 2015

Eric Garner, Michael Brown cases spark ‘legitimate concerns’ about US policing – UN experts

Wage growth stagnant in developed countries, slow worldwide – UN labour agency

Spotlighting humanity’s ‘silent ally,’ UN launches 2015 International Year of Soils


4 December

Ban appoints new Under-Secretary General for Communications and Public Information

Amid fresh violence in Libya, UN mission urges all parties to give dialogue chance to succeed

Kenya: UN says uptick in violence linked to rising inter-communal tensions

US should respond to public demands for greater police accountability – Ban

Ban condemns deadly terrorist attacks in Grozny

UN political chief urges revamped approach to boosting development in Afghanistan

Senior UN relief official describes “bleak” situation in South Sudan after a year of conflict

Yemen: Security Council condemns deadly bombing at Iranian Ambassador’s residence

Darfur: UN peacekeeping chief warns Security Council of region’s ongoing insecurity, violence

Road to Dignity by 2030: UN chief launches blueprint towards sustainable development

Food prices, stable for third straight month, appear to have ‘bottomed out’ – UN

Israel’s demolitions of Palestinian homes undermine ‘already fragile situation’ – UN


3 December

UNESCO chief calls for ‘protected cultural zones’ in war-torn Iraq, Syria

At ‘crossroads,’ humanitarian system must engage earlier, more systematically – UN deputy chief

Ebola: UN special envoy appeals to Liberians to remain vigilant, sustain response

UN health agency issues new guidelines on treating, preventing cervical cancer

At UN-backed conference, Ban urges greater industrial safety standards against accidents

South Sudan shaken by ‘sustained’ fighting as political crisis continues – UN

Iconic image spotlighting plight of Palestine refugees, illuminates UN headquarters

Ending violence against women calls for legally binding global standard – UN expert

2014 set to be hottest year on record, warns UN weather agency

UN torture prevention body highlights States’ duty to allow access detention centres

Somalia: UN ‘outraged’ by deadly terrorist car bomb attack in Mogadishu

UN agency launches social media campaign to bring urgent food aid to Syrian refugees

On world Day, Ban spotlights how technology can improve life for 1 billion persons with disabilities


2 December

At Harvard, UN chief urges global community to confront world’s existential threats

Ban deplores deadly terrorist attack against civilians in north-eastern Kenya

UN envoy welcomes deal between Iraqi, Kurdish region on oil, finances

Ebola: World Bank reports economic impact in worst-hit countries to exceed $500 million in 2014

Great Lakes Envoys outraged by spate of civilian massacres in eastern DR Congo

Cambodia: UN refugee agency voices concern over possible deportation of Montagnards

UN rights experts call on US to commute death sentence of mentally ill prisoner

South Sudan: UN chief stresses support for independence and sovereignty

UN rights office voices alarm over increasing polarization in Egypt amid protests

On Day to Abolish Slavery, UN urges end to modern-day scourge trapping 21 million


1 December

Ghana teams up with UN-backed alliance in move towards cashless economy

Paraguay: UN expert concerned over indigenous peoples’ rights to land, resources

UN recognizes achievement of thirteen countries in eradicating hunger ahead of 2015-deadline

Lima conference set to ‘write history’ ahead of 2015 climate deadline, UN official says

Letter-post still key revenue-maker for world’s postal services – UN agency

Lebanon: Ban appoints Special Coordinator as country continues to face political vacuum

Violence in Iraq kills at least 1,232 people in November – UN

Darfur: African Union-UN mission launches campaign against recruitment of child soldiers

Syria: UN forced to suspend food aid, warns of 'disastrous' impact as winter nears

World AIDS Day: UN, urban leaders endorse ‘fast track’ to ending epidemic by 2030


29 November

Ban condemns 'horrific' bombing of mosque in northern Nigeria


28 November

Emergency declared in Gaza following severe flooding – UN

UN refugee agency welcomes adoption of civil registration declaration in Asia-Pacific

Ebola: UN health agency advises male survivors to abstain from sex for 3 months

UN official sees upcoming Lima climate talks as ‘stepping stone’ for universal treaty

Deadly Boko Haram attack forces thousands to flee Nigeria for Niger – UN

'The world is on the side of those who are involved in this fight' against Ebola – UN envoy

Development cooperation in Mediterranean can help stem tide of forced migration – UN agency

Afghanistan: Security Council condemns attack on UK embassy vehicle

Botswana: UN expert calls for renewed 'nation-building' to celebrate rich diversity

Ahead of World AIDS Day, UN children's agency urges more investment, access to treatment


27 November

Structural reforms can help poorest countries break 'vicious' economic circle – new UN report

New UN-backed open-source tool will support community resilience-building


26 November

Ebola: UN crisis response mission opens new office in Mali

UN chief appoints panel on creating ‘technology bank’ for world’s poorest nations

Ritual dancing, bread-making among cultural practices added to UN heritage list

INTERVIEW: former UN official urges more transparent process to select Secretary-General

DR Congo: Security Council condemns massacres of civilians, attacks on peacekeepers

'Profoundly concerned' over violence in Libya, Security Council warns of possible sanctions

Obesity-related cancers on rise, especially in developed countries – UN

Kyrgyzstan: UN rights experts urge Parliament to withdraw anti-gay bill

UN rights experts urge US President Obama to release report on CIA torture allegations


25 November

Ban voices ‘deep concern’ over eruption of violence in Libya; urges return to dialogue

Sanctions are ‘effective’ method to build global stability, Security Council told

Syria: humanitarian efforts falling short, UN relief chief warns, calling for end to violence

Ebola: December 1 target for response may not be met in some areas of West Africa, UN reports

International community has duty to protect minorities, UN deputy chief tells Geneva forum

As number of South Sudanese refugees grows, UN relief official urges support to Ethiopia

UN rights chief concerned over 'disproportionate' killings of African-Americans by US police

UN sounds alarm to end ‘global pandemic’ of violence against women

Timor-Leste: UN expert warns dismissal of judicial officials may have ‘chilling effect’

Security Council extends UN mission in South Sudan through May 2015

Haiti: UN mission chief urges calm, respect for rights in wake of protests

Security Council extends UN Guinea-Bissau office for three months

UNESCO chief denounces murder of Somali radio journalist

Israel’s demolition of Palestinian homes ‘contrary to international law,’ UN experts warn

desain baru

Latihan Skrip

    !-- Lead Items --> !-- END Video Items -->
    Gavin Crowden World Vision UK

    Commonwealth summit grand stage for UK PM May to end slavery

    If May can influence other leaders to join her to end this abuse, she will certainly be building a legacy of which she can rightly be proud
    Ruwani Dharmakirthi CARE International

    "If there’s no war today, there’s war tomorrow”

    “DRC will never have peace – if there’s no war today, there’s war tomorrow.”
    href="/item/20180322143131-5xd62/">
    The Road to the Ring - Swapping gangs for boxing in Medellin

    Climate

    We focus on the human and development impacts of climate change. more
    Mohamed Adow Christian Aid - UK

    African leaders must remember who they serve at climate talks

    Silence is not an option for African leaders at this week's climate talks on shipping